Senin, 26 November 2012

BUDIDAYA PADI DENGAN METODE SRI (system of rice intensification)

BUDIDAYA PADI DENGAN METODE SRI
(system of rice intensification)




Disusun oleh :

Cucun Sundawa S. W, SST.
Sutarsih, S.TP
Mushofa AR.
Azwar Anas



A. Pendahuluan
Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Batu Lintang meliputi 2 (dua) Kecamatan, yaitu Kecamatan Ulu Musi dan Kecamatan Sikap Dalam yang terdiri dari 25 Desa. Dengan luas lahan pertanian di kedua Kecamatan tersebut adalah 64.568 hektar, Sebesar 9,77 % dari lahan pertanian tersebut merupakan lahan sawah atau seluas 6.308 hektar. Lahan pertanian sawah terluas sebesar 550 hektar terdapat pada Desa Air Kelinsar dan Desa Talang Bengkulu.  Produktivitas padi sawah per hektar di Kecamatan Ulu Musi mencapai 10,88 ton per hektar, dengan luas panen sebesar 6.308 hektar dan produksi 68.628 ton. Penyumbang produktivitas padi sawah terbesar adalah Desa Tapa Baru sebesar 7.564 ton dari 122 hektar sawah atau sebesar 62 ton per hektar.
Sebagian besar lahan sawah di kecamatan ini menggunakan pengairan yang masih sederhana, yakni seluas 2.354 hektar. Selain itu, masih ada lahan sawah yang menggunakan pengairan dengan mengandalkan hujan sebesar 30 hektar. Dengan keadaan sistem pengairan seperti ini metode budidaya padi SRI (System of Rice Intensification)
Sangat tepat dilaksanakan di wilayah kerja BP3K Batu Lintang.

B.  Pengertian SRI

SRI adalah cara budidaya Padi yang diteliti dan dikembangkan oleh Fr. Henri de Laulanie pada tahun 1984 di pulau Madagaskar. Metode ini mengubah pengelolaan tanaman padi, tanah, air dan unsur hara terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi sebesar 50 %, bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 %.
Metode SRI ini dinamakan juga bersawah organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Sehingga metode ini dikenal ramah lingkungan dan bersahabat dengan alam dan makluk hidup di lingkungan persawahan.

C.  Prinsip Dasar Budidaya Padi Metode SRI
1.    Prinsip padi tanam sebatang.
2.    Penggunaan bahan organik (semua jerami dijadikan kompos dan dikembalikan ke lahan sawah sebagai pupuk dasar)
3.    Bibit Muda (umur 8 – 12 hari) dan ditanam satu batang per rumpun.
4.    Air tidak tergenang terus-menerus (penggenangan apabila diperlukan).
5.    Penerapan konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT).
6.     Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari.
7.    Bibit tanam satu pohon berlubang dengan jarak tanam 30 x 30cm , 35 x 35cm  atau lebih jarang.

D. Keunggulan Metode SRI

1.    Tanaman hemat air, selama pertumbuhan pemberian air maksimal 20cm, paling baik macak-macak sekitar 5mm)
2.    Hemat biaya, hanya membutuhkan benih 5kg/ha.
3.    Hemat waktu, ditanam bibit muda 5-12 hss dan waktu panen akan lebih awal.
4.    Produksi meningkat, dibeberapa tempat mencapai 11 ton/ha.
5.    Ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia digantikan dengan pupuk organik.

E.  Langkah-Langkah Budidaya Padi Metode SRI

1.    Persiapan Bibit


a.       Pembuatan Persemaian
Pembuatan persemaian tidak harus digunakan pada lahan sawah, tapi dapat menggunakan baki atau kotak dari kayu atau bambu.
b.      Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit dengan peremdaman dengan air garam (konsentrasi garam diukur dengan memasukkan telur ke dalam air garam, jika telur sudah mengapung berarti konsentrasi garam sudah tepat).

2.       Persiapan Lahan
a.       Pembuatan Selokan
Petani membutuhkan setengah dari penggunaan air, karenanya selokan menjadi sangat penting  sehingga mudah dalam pengaturan air dan pengendalian hama keong mas.
b.      Penebaran kompos
Penebaran kompos sebagai sumber nutrisi dan bermanfaat juga untuk memperbaiki struktur tanah.

3.       Penanaman Bibit

a.       Pemindahan bibit ke sawah atau transplantasi dilakukan setelah bibit berdaun 2 helai.   
b.      Penanaman dilakukan secara berhati-hati dengan 1 bibit per lubang.
c.        Posisi perakaran pada saat tanam dibuat seperti huruf “L”.
d.      Jarak  tanam dibuat lebih lebar, yaitu 30 x 30cm.



4.       Penyiangan
Penyiangan dilakukan 7 – 10 hari setelah tanam. Penyiangan dapat dilakukan dengan tangan atau garok atau alat lain yang dapat digunakan untuk menghilangkan gulma. Penyiangan bertujuan untuk memperlancar perputaran dan pertukaran udara supaya memperkuat pertumbuhan akar lebih cepat dan sehat sehingga mendukung pertumbuhan tunas.
Pada saat penyiangan air dalam keadaan macak-macak.
5.       Panen


Panen dilakukan saat padi berusia 98 hari setelah tanam  atau setelah tanaman tua atau ditandai dengan menguning atau masaknya gabah. Budidaya organik metode SRI menitik beratkan pada prinsip daur ulang hara melalui panen, dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah.

Dari hasil penelitian Nissanka dan Bandara (2004) metode SRI memberikan keuntungan pertumbuhan lebih kuat, menghasilkan bulir lebih banyak, produksi bahan kering lebih tinggi. Zheng et. Al. (2004) menyatakan bahwa sisten SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton/ha.

F.  Manfaat Sistem SRI

Manfaat sistem SRI antara lain sebagai berikut  :
1.       Hemat air (tidak tergenang) kebutuhan air hanya 20 – 30 % dari cara bertanam padi tradicional.
2.       Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah.
3.       Membentuk petani mandiri karena tidak tergantung pada pupuk kimia tetapi menggunakan pupuk organik dan pestisida buatan.
4.       Membuka lapangan pekerjaan , mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani.
5.       Menghasilkan produksi beras yang sehat dengan rendemen yang tinggi dan tidak mengandung residu kimia.
6.       Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi yang akan datang.

G. Analisa Usaha Tani
Tabel 1 : Tabel Biaya Usaha Tani Sistem SRI dan Konvensional
No
Uraian
SRI
Konvensional
1
Benih (± Rp 5.000,- / Kg)
25.000
250.000
2.
Pupuk
a. Organik (jeramik+ 3 ton kompos)
b. An-organik Urea, SP36,KC1.(2:1:1)

1.200.000

-

750.000
3.
Pengendalian OPT dengan
a. Pestisida kimia
b. Biopestisida


-
150.000

500.000
-
4.
Pengolahan Tanah
1.000.000
1.000.000
5.
Pembuatan persemaian
35.000
105.000
6.
Pencabutan benih (babut)
-
100.000
7.
Penanaman
500.000
350.000
8.
Penyulaman
50.000
20.000
9.
Penyiangan
1.050.000
750.000
Jumlah
4.160.000
3.825.000

Tabel  2: Tabel Analisa Usaha Tani Sisten SRI dan Sistem Konvensional Sebagai Pembanding.
Uraian
Harga /Satuan
(Rp)
Metode SRI
Metode Konvensional
Vol.
Nilai (Rp)
Vol.
Nilai (Rp)
1.  Biaya Saprodi (benih,   pupuk, pestisida)
-
-
1.375.000
-
1.500.000
2.  Biaya tenaga kerja/mesin
-
-
2.785.000
-
2.325.000
Total biaya
-
-
4.160.000
-
3.825.000
Produksi (kg GKP)
2.300
7740
17.802.000
5210
11.983.000
Pendapatan kotor
-
-
13.642.000
-
8.158.000
Biaya Panen (10%)
-
-
1.364.200
-
815.800
Pendapatan bersih
-
-
12.277.800
-
7.342.200
R/C
-
-
2,95
-
2,13

1 komentar: